Kasih Sayang Rosulullah Kepada Umat

Sosok yang paling menyayangi diri kita sebenarnya adalah Rosulullah, namun kita tidak mau menerima kasih sayang Rosulullah. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Allah SWT menyifati Rosulullah dengan sifat “sangat kasih sayang” kepada orang-orang beriman, padahal Allah juga menggunakan sifat tersebut untuk menyifati diri-Nya sendiri. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117)

Juga:

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (QS. An-Nuur: 20)

Dalam keadaan sakit berat menjelang meninggal dunia, yang dikhawatirkan oleh Rosulullah adalah keadaan umatnya, bukan kedua cucu tercinta Beliau: Hasan dan Husain, bukan putri yang sangat disayangi: Fatimah, dan bukan pula istri yang paling dicintai: Aisyah. Begitu pun ketika nanti dibangkitkan di akhirat, yang beliau tangisi adalah keadaan umat beliau.

Sementara keadaan kita hari ini, yang mengaku sebagai umat Rosulullah, yang mengaku mencintai Rosulullah, apa yang telah kita perbuat untuk menyenangkan Rosulullah? Pengorbanan apa yang telah kita perbuat sebagai bukti kecintaan kita kepada Rosulullah?

Apa yang telah kita perbuat hari ini justru malah membuat Rosulullah semakin berduka. Kasih sayang dan pengorbanan darah Beliau demi kita malah kita balas dengan sikap cuek, berpaling dan membuang muka dari Beliau. Lebih dari itu, kita telah mencampakkan kasih sayang dan pengorbanan Beliau dari hati kita dan dari kehidupan kita. Kemudian kita mengambil teladan kehidupan dari orang-orang yang memusuhi Rosulullah.

Sekedar perumpamaan, di antara kita mungkin ada yang pernah merasakan bagaimana keadaan ketika perasaan kasih sayang yang tulus terhadap seseorang, disertai pengorbanan materi yang tidak sedikit demi dia, namun yang terjadi seseorang tersebut malah menjauhi kita, mencibir kita, dan mencampakkan semua pengorbanan dan kasih sayang yang tulus dari kita, serta berpaling kepada orang lain yang menjadi musuh kita. Bagaimana kira-kira perasaan hati kita?

Apa yang terjadi kepada Rosulullah akibat berpalingnya diri kita dari Rosulullah tidak bisa diceritakan dengan kata-kata, tidak bisa diungkapkan lewat bahasa. Hanya sebuah untaian “keluhan” pemberian dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang bisa menjadi penawar hati Beliau…. [juga hati kita]

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّه لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.” (QS. At-Taubah: 129)

حسبي ربي جل الله ، ما في قلبي غير الله

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *