Keistimewaan Pemuda

As Syaikh Al Baijuri menulis di dalam hasyiah Fathul Qorib pada pembahasan kata “as syaikh”

وبعد البلوغ يقال له شاب وفتى ، وبعد الثلاثين يقال له كهل

“Seorang manusia ketika telah masuk usia baligh disebut ‘Syab’ dan ‘Fata’ (pemuda), dan ketika telah masuk usia 30 tahun disebut ‘Kahl’.”

Dalam bahasa Arab, seorang manusia disebut pemuda ketika telah menginjak usia baligh (15 tahun atau kurang) sampai usia 30 tahun.

Dalam beberapa ayat Allah memberikan pujian untuk pemuda, diantaranya:

1. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan kisah para pemuda ashabul kahfi kepada Baginda Nabi صلى الله عليه وسلم:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَـقِّ ۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka,” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 13)

2. Baginda Nabi Ibrahim على نبينا وعليه الصلاة والسلام ketika membuat penentangan terhadap penyembahan berhala oleh Namruz dan pengikutnya adalah ketika masih di usia muda:

قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗۤ اِبْرٰهِيْمُ

“Mereka (yang lain) berkata, Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 60)

3. Orang yang menemani Baginda Nabi Musa على نبينا وعليه الصلاة والسلام sewaktu hendak berguru adalah seorang pemuda:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰٮهُ لَاۤ اَبْرَحُ حَتّٰۤى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 60)

4. Orang yang berguru kepada Baginda Nabi Yusuf على نبينا وعليه الصلاة والسلام sewaktu di dalam penjara juga adalah pemuda:

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيٰنِ ۗ قَالَ اَحَدُهُمَاۤ اِنِّيْۤ اَرٰٮنِيْۤ اَعْصِرُ خَمْرًا ۚ وَقَالَ الْاٰخَرُ اِنِّيْۤ اَرٰٮنِيْۤ اَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِيْ خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۗ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيْلِهٖ ۚ اِنَّا نَرٰٮكَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur, dan yang lainnya berkata, Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf 12: Ayat 36)

Imam As Syafii bersyair:

حياة الفتى والله بالعلم والتقى * اذا لم يكونا لا اعتبار لذاته

Demi Allah, kehidupan seorang pemuda dengan sebab ilmu dan takwa. Apabila keduanya tiada, maka esensi dirinya dianggap tiada. (Syaikh kami berkomentar: Ilmu itu (saat ini) didapatkan di pesantren, sedangkan takwa didapatkan dengan cara keluar di jalan Allah, dakwah ilallah.)

Syaikh Al ‘Imriti bersyair:

اذ الفتى حسب اعتقاده رفع * وكل من لم يعتقد لم ينتفع

Karena seorang pemuda akan ditinggikan menurut tekadnya. Dan siapapun yang tidak memiliki tekad maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *